Akankah sebuah perpisahan menjadi awal dari goresan puisi sang bijak? yang menggantikan secawan arak kedalam untaian do’a, yang menggantikan gelap kedalam terang binar mata, dan membisikkan petuah-petuah bijak dalam rahasia kehidupan ini. Akankah air mata? yang telah mengalir bagai mata air bening yang tak pernah tahu kemana akan terpercik, bagai tetes-tetes embun yang membasahi dedaunan … Read More →
Sajak Kupu-Kupu
: di ujung musim ini Sajak kupu-kupu di ranting-ranting rapuh Di hamparan padang luas Di kelopak-kelopak layu sisa hari Di ujung musim ini Tak ada lagi sisa-sisa air mata Semua kadung mengering Mengalir sepanjang musim yang lalu Entah berapa banyak sudah Hati yang terluka di serambi taman Entah berapa banyak yang terhanyut Tertelan puisi-puisi … Read More →
Wuk
Wuk I Wuk, Pagi baru saja meninggalkan cahaya yang mencampakkan setetes embun kedalam samudera ketidak mengertian akal. Semburat hangat nur membelai mimpi yang semalam meniduriku, elok malam membubuhi rindu dengan kembang-kembang penghias muram. Wuk, dari pemahaman sepertakterhingga detik waktu yang melintas dalam anganku, aku menyimpulkan bahwa kehangatan cinta hadir lewat pemahamanku, aku tak mungkin hadir … Read More →
Kepada, Yang Kucinta: …..
Kepada, Yang Kucinta: ….. ( 1 ) Jarak, waktu dan fatamorgana mengiring langkah kita Kita terbang dengan sayap–sayap kecil, berlari dengan jejak–jejak yang fana, bercerita pada diri kita masing–masing tentang rahasia–rahasia hati Lalu, ketika malam datang Tak jua mimpi terganti, masih saja kepala kita remuk sebelum terbangun dan lelap benahi kembali Kepada, Yang Kucinta: … Read More →
Pesona Waduk Cacaban (Sebuah Cerita)
Minggu, 25 mei 2008 Waduk Cacaban Kabupaten Tegal. Saya, Pak Sukhedi, dan Imam menyempatkan diri untuk refreshing ke Waduk Cacaban. Bertiga kami menjelang nuansa baru dalam hiruk pikuk pikiran yang dipenuhi dengan beban pekerjaan yang menggunung. Kami naik perahu mengarungi waduk cacaban, modal Rp 5.000 per-orang kami sudah bisa menikmati putar-putar waduk dengan perahu. Laka maning … Read More →
Auracinta: Perjalanan Cinta
Auracinta I Sepenggal sajak terdengar begitu mesra, menghantarkan anganku menembus ruang waktu yang aku menganggap bahwa diriku telah lancang. Dengan segala keangkuhan rasaku, kutelusuri jejak-jejak waktu yang menggoreskan kenangan tentang benih yang tumbuh, bersemi, berbunga dan layu. Aku telah letih mengukur seberapa jauh perjalanan cintaku. Detik, menit, siang, malam kurasakan bukanlah kesimpulan hakekat rasaku. Aku … Read More →
Hello world!
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Recent Comments